Saat Si Kecil Meledak: Belajar dari Tantrum Balita di Yapen

Pagi itu di pasar Yapen, anak bungsuku yang baru genap dua tahun tiba-tiba menjerit dan berguling di lantai. Alasannya? Satu bungkus kue kering yang reflek kurebut karena belum waktunya. Wajahnya memerah, tangannya mengepal, dan aku cuma bisa menunduk malu karena semua mata tertuju pada kami. Orang kampung sering bilang anak keras kepala itu turunan dari orangtuanya. Tapi sebagai emak bekerja yang tiap hari berjibaku antara deadline kantor dan jadwal MPASI, aku mulai ngeh: tantrum itu bukan perlawanan. Itu bahasa pertama anakku yang masih belepotan.
Akar Tantrum: Lebih Dari Sekadar Manja
Usai kejadian di pasar, aku curhat sama kakak ipar yang kerja di puskesmas. Katanya, otak balita emang belum bisa ngatur emosi kayak kita. Saat capek, laper, atau keinginannya nggak kesampean, amarahnya meledak begitu aja. Dr. Soedjatmiko dari IDAI bilang tantrum itu fase normal perkembangan anak usia 1–3 tahun, karena mereka udah sadar diri tapi belum bisa ngomong lancar (sumber). Suamiku suka ngomong, "Diemin aja, ntar juga brenti." Ternyata diam tanpa respon malah bikin ledakan makin lama. Yang bener itu hadir di samping mereka, nggak marahin, dan nungguin badai reda. Sejak itu, aku belajar bedain mana beneran frustasi mana cari perhatian.
Tips Jitu Hadapi Ledakan Emosi
Aku mulai terapin trik sederhana. Sebelum ke pasar, kujelasin aturan main: "Kita beli ikan doang ya, nggak beli kue." Kalau rengekan mulai muncul, kusanyikan lagu favoritnya atau tunjukin burung di pohon dekat lapak. Di rumah, pas dia ngamuk karena mainan diambil adik sepupu, kupegang tangannya sambil bilang, "Kakak marah ya? Yuk tarik napas dulu." Awalnya lucu liat dia niru suara tarik napasku, tapi lama-lama dia mulai bisa. Ilmu ini kutemuin di buku "Parenting for Working Moms" yang kupinjem di perpus daerah. Nggak perlu sempurna, yang penting konsisten. Anak-anak itu lebih sering meniru apa yang kita lakuin daripada apa yang kita omongin.
Proses Belajar yang Tak Pernah Usai
Tiap tantrum yang lewat selalu ninggalin pelajaran. Dulu aku mikir harus jadi ortu yang sabar terus. Nyatanya, aku pernah ikutan teriak, trus nyesel semalaman. Tapi pelan-pelan aku ngerti kalo tumbuh kembang nggak cuma soal berat badan ideal. Itu juga tentang cara anak belajar ngelola rasa kecewa, dan cara kita belajar nahan diri. Malem-malem, setelah si kecil tidur pulas, aku suka merenung: mungkin dia lagi ngetes batas, tapi aku juga lagi diuji kesabaranku. Sekarang kalo liat tetangga yang anaknya tantrum, aku cuma bisik, "Ini fase, bu. Ntar juga lewat. Santuy aja." Karena perjalanan ini panjang, dan kita sama-sama masih belajar.
Sore itu di pasar, kuseka air mata di pipinya yang masih cegukan. Dia peluk leherku dengan tangan mungilnya. Nggak ada kata maaf, dan aku juga nggak butuh itu. Yang penting aku inget kalo dia masih belajar jadi manusia, dan aku masih belajar jadi emaknya. Hidup emang kadang bikin pusing, tapi nggak ada yang nggak bisa diatasi dengan sabar dan... mungkin segelas kopi hangat pas anak udah tidur.