MPASI Tanpa Drama: Cerita dari Dapur Yapen

Flashback ke masa awal MPASI anak pertama saya. Usia sembilan bulan tapi drama makannya bikin pusing tujuh keliling. Bubur labu kuning yang dimasak mati-matian malah bertebaran di lantai. Si kecil rewel, saya pun hampir menangis. Sebagai working mom di Yapen, waktu memang terbatas. Tapi pengalaman ini akhirnya ngajarin saya bahwa urusan tumbuh kembang anak gak perlu serumit teori.
Rahasia dari Tetangga Sebelah
Awalnya saya benar-benar clueless. Sampe suatu hari memperhatikan anak tetangga yang makannya lahap banget. Ternyata kuncinya cuma dua: jadwal teratur dan variasi tekstur makanan. Saya mulai rutinkan sarapan dengan bubur nasi campur daun kelor yang banyak tumbuh di sini, makan siang kasih protein dari ikan cakalang yang mudah didapat di pasar Yapen, sorenya camilan pepaya atau pisang. Kalo ditolak, saya coba lagi setelah beberapa menit Ada perspektif lain di tumbuh kembang.
Yang bikin beda adalah ketika saya libatkan anak dalam proses makan. Biarkan dia pegang sendok meski berantakan. Katanya sih bagus untuk melatih motorik halusnya. Saya juga pelajari tahapan MPASI dari Wikipedia. Prosesnya memang gak instan, tapi setelah tiga bulan berat badannya naik signifikan, anak jadi lebih aktif, dan yang paling penting... stres saya berkurang drastis.
Nyatanya, kunci utama bukan pada menu sempurna. Tapi pada momen kebersamaan saat makan. Di tengah kesibukan kerja dan urusan rumah, waktu sederhana di meja makan justru menjadi fondasi penting untuk tumbuh kembang mereka. Info lengkap bisa dibaca di sumber ini atau artikel tentang tumbuh kembang di blog kami.
Selengkapnya di: sumber resmi