Tumbuh Kembang Tumbuh KembangRangkuman praktis dan ulasan ringan untuk keseharian.
parenting

Menyaksikan Tumbuh Kembang Anak di Kepulauan Yapen dengan Hati

Cerita pengalaman mengamati tumbuh kembang anak di Kepulauan Yapen, dari balita hingga TK, dengan segala tantangan dan kebahagiaannya.

18 May 2026 · 3 menit baca · oleh Hari Suhardi
Menyaksikan Tumbuh Kembang Anak di Kepulauan Yapen dengan Hati

Anak bermain di pantai Kepulauan Yapen

Delapan tahun menetap di Kepulauan Yapen memberi saya sudut pandang yang berbeda tentang tumbuh kembang anak. Di antara laut luas dan pepohonan kelapa, saya melihat putra saya berubah dari bayi merah menjadi anak TK yang penuh rasa ingin tahu. Tahapan perkembangannya memang sama seperti anak-anak lain, tetapi lingkungan dan budaya di sini memberi warna tersendiri.

Dari Merangkak ke Berlari di Atas Pasir

Saya masih ingat betul saat anak pertama saya, Arka, memulai petualangan tumbuh kembangnya di pantai dekat rumah. Pada usia 9 bulan, ketika sebagian anak di kota besar belajar merangkak di lantai parket, Arka justru menjadikan pasir hangat sebagai “lantai” pertamanya. Awalnya saya waswas. Namun, menurut IDAI.or.id, variasi permukaan dapat membantu perkembangan motorik kasar anak.

Di Kepulauan Yapen, setiap tahap terasa lebih alami. Arka belajar berjalan sambil sesekali terjatuh di atas rumput pantai yang lembut. Ia juga mulai memegang kerang dan batu karang, sehingga motorik halusnya terlatih tanpa sesi khusus. Alam menjadi guru pertamanya, mengenalkan tekstur, suhu, bentuk, dan rasa penasaran yang terus tumbuh.

Kadang ia bermain sampai kotor dan saya harus membersihkannya sebelum makan. Tidak apa-apa, namanya juga anak kecil. Justru dari permainan sederhana seperti itu, saya melihat ia semakin berani mencoba hal baru.

Ketika Budaya Lokal Menjadi Bagian dari Pembelajaran

Salah satu hal yang menarik dari mengasuh anak di Kepulauan Yapen adalah budaya lokal yang hadir dalam keseharian. Arka mengenal bahasa daerah sejak kecil, bukan hanya dari kami, tetapi juga dari tetangga dan teman-temannya. Saya dulu sempat khawatir ia akan bingung menggunakan beberapa bahasa. Ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti.

Menurut pengamatan saya, kemampuan multilingual membuat Arka lebih cepat memahami konteks dan lebih percaya diri saat berkomunkasi. Ia memang masih sesekali mencampur bahasa, tetapi itu bagian dari proses belajar yang wajar.

Anak belajar menari tradisional Kepulauan Yapen

Sekarang, di usia TK, Arka sudah bisa menceritakan legenda lokal yang didengarnya dari kakek. Ia juga belajar tarian tradisional di sekolah. Kegiatan itu bukan hanya menyenangkan, melainkan membantu perkembangan sosial, koordinasi tubuh, dan rasa percaya dirinya.

Saya semakin paham bahwa tumbuh kembang bukan sekadar tinggi badan, berat badan, atau kemampuan membaca. Anak juga perlu membangun identitas, mengenal akar budayanya, dan merasa diterima oleh lingkunggan tempat ia tumbuh.

Menjaga Keseimbangan Alam dan Teknologi

Sebagai ibu bekerja, saya harus membagi waktu antara kantor dan pengasuhan. Tantangan paling besar adalah memberi Arka stimulasi yang cukup tanpa membuatnya kehilangan waktu bermain. Saya ingin ia menikmati alam Kepulauan Yapen, tetapi juga tetap mengenal teknologi dan pengetahuan modern.

Jalan keluarnya ternyata tidak rumit. Pagi hari sebelum sekolah, Arka biasanya bermain di luar dan mengeksplorasi lingkungan sekitar. Sore setelah saya pulang kerja, kami membaca buku atau menonton tayangan edukatif bersama. Durasi menonton tetap saya batasi, lalu kami membicarakan isi tayangannya agar ia tidak sekadar melihat layar.

Kalau sedang capek, saya tidak memaksakan kegiatan yang terlalu banyak. Kadang kami hanya duduk di teras, melihat matahari turun, lalu bercerita tentang apa yang ia lakukan hari itu. Momen kecil seperti ini justru sering terasa paling dekat.

Delapan tahun mengamati tumbuh kembang anak di Kepulauan Yapen mengajarkan saya bahwa setiap tempat memiliki cara sendiri dalam membentuk seorang anak. Yang penting bukan hanya lokasi tempat tinggal, tetapi bagaimana kita memanfaatkan lingkunggan sekitar untuk mendukung setiap tahap perkembangannya.

Kini, saat melihat Arka berlari di pantai sambil tertawa, saya merasa bersyukur. Tumbuh kembangnya berlangsung dengan cara yang sederhana, penuh warna, dan kadang tidak rapi. Namun, di situlah letak kebahagiaannya.

Tag: #tumbuh kembang #pengasuhan anak #ibu bekerja